Kumpulan Cerpen atau Cerita Pendek

Search This Blog

Papa dan Mama akan Menyusul Pulang

Raja Cerpen ~ "Papa dan Mama akan menyusul  ke sini sama  Adik Imel.  Mereka selamat," kata Adi seorang  bocah  berumur  10 tahun  yang selamat dari bencana gempa dan tsunami di Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004. Baru empat bulan lalu Adi, Imel, adiknya yang berusia 3 tahun  dan kedua orang tuanya pindah  ke Banda Aceh.


Ayah Adi adalah seorang hakim yang mengemban tugas pindah ke Pengadilan Negeri  Banda  Aceh. Sementara itu, kakaknya, Fajar, yang berusia 13 tahun memilih tetap tinggal di Tasikmalaya.

Namun,  suratan hidup  hanya  Tuhan  yang  tahu.  Gempa  dan tsunami  telah  memisahkan mereka untuk selamanya. Tidak ada seorang pun yang berani mengatakan kepada Adi soal kematian  ayahnya dan hilangnya adik dan ibunya. "Kami belum siap". Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir saudara-saudaranya dan para tetangga.  Bahkan,  kakak Adi yang tak ikut serta pindah itu pun tetap berusaha  menahan  air mata dan terus ingin memeluk  satu-satunya adik yang selamat.

Saat itu Aceh masih pagi. Adi dan adiknya tengah bermain playstation di rumahnya.  Ayahnya  tidak masuk kantor karena  sedang sakit jantung. Ibunya  pun berada di rumah. Tiba-tiba Adi merasakan gempa. la segera berhambur keluar dari rumah bersama adiknya.  Sesaat kemudian  gempa berhenti dan Adi pun kembali bermain. Ketika sedang asyik bermain, tiba­tiba saja air bah datang  cukup deras. Adi terbawa air mungkin sekitar  30 meter.  Setelah kejadian  itu, Adi  tidak  tahu  lagi di mana ayah, ibu, dan adiknya berada.

Adi selamat dalam bencana itu karena ditolong Ibu Yanpi. Pada waktu itu Ibu Yanpi bersama keluarganya  di dalam mobil. Akan tetapi, mobil yang ketika itu berisi  delapan orang, termasuk Adi, tertimpa listrik.  Setelah kejadian itu, Adi hanya pergi bertiga bersama Ibu Yanpi dan seorang anaknya.  Adi tidak tahu yang lainnya.

Lalu bagaimana Adi bisa  ke Tasikmalaya?  Adi pergi naik truk  dari Aceh ke Medan. Perjalanannya memakan waktu 24 jam. Di truk itu Adi bersama orang-orang dewasa. Akhirnya, Adi bertemu dengan  teman ayahnya yang sama-sama  berasal dari Tasikmalaya,  Gunawan.  Gunawan membawa pulang Adi dengan menggunakan pesawat dari  Medan ke Jakarta.  Kemudian, mereka naik  mobil ke Tasikmalaya. Gunawan yang juga selamat dari tsunami hanya bisa mengatakan bahwa ayah Adi telahmeninggal.

Disadur dari: Kompas, 8 Januari 2005
 

Lukisan Matahari

Raja Cerpen ~ Sudah tiga malam berturut-turut Sukamdi bermimpi aneh. la melihat 17 Matahari muncul  bersamaan. Meski jumlahnya 17, panasnya sama dengan satu Matahari. Tiga Matahari menyembul  dari daerah persawahan di depan rumahnya. Empat Matahari muncul dari ufuk timur. Lima Matahari tiba-tiba berada di langit, sedangkan lima terakhir tampak berputar-putar pada ketinggian kira-kira  5.000 kaki di atas permukaan  laut.

Pada malam ke-4, ke-5, dan ke-6, ia tak mimpi apa-apa.  Tetapi pada malam ke-7 ia mimpi lagi. Dan sama, melihat 17 Matahari. Malam-malam berikut laki-Iaki itu seperti takut tidur. Meski rasa kantuk sudah mirip siksaan yang mendera, ia tetap berusaha untuk tak memejamkan mata. Tergolek di samping istrinya, berkali-kali memiringkan badan lalu membalikkan lagi sehingga istrinya protes karena merasa terganggu.

"Mimpi yang dahsyat," desis Mia kemudian sambil memandangi suaminya. "Kau akan jadi orang hebat. Dikenal luas  oleh masyarakat, Siapa tahu,  ya  siapa  tahu,  sebagai  pelukis  derajatmu  akan naik. Bukan lagi sebagai pelukis kaki lima yang dilecehkan orang. Siapa tahu lagi, pameranmu bulan depan bisa sukses."

Sukamdi mengangguk-angguk. Hari-hari terakhir ini ia memang sedang kerja keras merampungkan beberapa buah lukisan. Semua lukisan naturalisme, ada  beberapa  yang  agak dekoratif. Selama ini tak pernah karyanya dilirik kolektor kakap. Atau namanya diucap oleh kritikus seni. Wartawan  saja enggan mengekspos dirinya. Malah ada yang menyindir bahwa dirinya tak lebih pelukis sepiring nasi. Artinya, harga  lukisannya memang  cukup untuk makan sekali.

"Wujudkan mimpimu itu dalam sebuah lukisan. Orang-orang pasti kaqet," ucap Mia memberi semangat. "Objeknya  dirimu sendiri. Kau berdiri mematung dikelilingi 17 Matahari.  Jika nanti  ada  yang bertanya,  jawab saja dengan jujur kau memang pernah bermimpi melihat 17 Matahari." 

"Bagaimana?" tanya  Sukamdi  penuh  harap.

"Gubernur tak bisa hadir. Tapi beliau akan memberi sambutan tertulis dan akan dibaca oleh Pak Wagub," jawab Mia bernada bangga.

Sukamdi dan Mia hampir  tak percaya  melihat  jumlah tamu sore itu. Hanya upacara pembukaan    pameran lukisan. Tamu yang  hadir 500 orang. Halaman gedung kebudayaan yang tak seberapa luas  itu tak mampu menampung mobil yang diparkir. Juga puluhan sepeda motor terpaksa parkir di trotoar, beberapa wartawan mondar-mandir menenteng tustel. Juga wartawan dari televisi. Yang terakhir itu ke mana-mana memanggul kamera video.

Sambutan tertulis gubernur ternyata cuma selembar. Dibaca oleh wakilnya itu tak sampai sepuluh menit. Upacara pembukaan selesai dalam waktu singkat. Wakil gubernur lalu memasuki ruang pameran diikuti para wartawan dan tamu undangan yang lain. Sukamdi dan Mia mengantar orang terhormat itu sampai rampung melihat-lihat lukisan yang dipajang.

Begitu semua sudah dilihat, lelaki itu segera minta pamit karena masih harus meresmikan acara lain, yakni penataran kejujuran karyawan pemerintah daerah.

Sukamdi hampir saja minta kepada petugas agar mulai menutup jendela ketika sebuah mobil sedan warna metalik masuk pelan-pelan. Suara mesinnya hampir tak terdengar. Dua satpam yang sejak tadi duduk terkantuk segera berdiri dan berlari mendekati mobil itu. Yang seorang tangannya cekatan membukakan pintu dari luar. "Selamat malam Pak Sutomoyo,"sapa hormat dua Satpam itu begitu seorang lelaki gemuk keluar dari mobil. Lelaki itu membalas dengan menggangguk-anggukkan kepala. Seorang wanita muda berjalan di sampingnya.

"Saudara yang bernama Sukamdi?" tanya lelaki bernama Sutomoyo itu pada Sukamdi. Yang ditanya langsung mengangguk penuh hormat. "Mana lukisan 17 Matahari itu?"


"Di sana, di sana, Pak. Mari kami antar." Sukamdi menggamit tangan Mia. Keduanya membungkuk-bungkuk hormat memandu Sutomoyo dan wanita muda yang berjalan di sampingnya. "Ini, ini lukisannya," tunjuk Sukamdi gugup campur gembira. "Jujur saja kami akui, Pak, lukisan ini berdasar mimpi."

"Mimpi?" tanya Sutomoyo. "Mimpi apa kau?" 

"Saya mimpi melihat 17 Matahari. Tak hanya melihat, malah seolah saya dikelilingi 17 Matahari itu."

"Hemm," Sutomoyo mengangguk-angguk. la melirik wanita muda di sampingnya. Sesaat kemudian   wajahnya berkerut. "Kubeli lukisan ini, berapa pun harganya. Dengan satu syarat."

"Apa itu, Pak?" tanya Sukamdi penuh harap.

"Yang berdiri di situ bukan kamu, tapi aku. Aku berdiri, menatap cakrawala yang memerah dan dikelilingi 17 Matahari."

Mulut Sukamdi ternganga.  "Yang bermimpi saya, Pak," ucapnya kemudian gugup campur  takut "Kubeli mimpimu! Berapa?  Lima juta, sepuluh juta? Oke, sepuluh juta dengan syarat lain. Ganti gambarmu  dengan  gambarku  dalam semalam. Esok pagi sebelum pukul sepuluh, lukisan itu harus jadi dan kau antar ke kantorku.  Bisa?"

"Kalau saya buat yang baru, yang lebih bagus, Pak? Lukisannya sama. Bapak berdiri dikelilingi 17 Matahari."

"Kalau lukisan ini masih ada, itu tak ada artinya. Buat apa mengoleksi lukisan kodian. Pokoknya  cuma ada satu lukisan tentang seseorang yang dikelilingi 17  Matahari.  Orang  itu  aku  dan  lukisan   itu cuma  milikku." Sutomoyo menggamit tangan wanita muda di sampingnya. "Luki, berikan cek sebesar 10 juta  pada seniman kita ini."

"Sepuluh juta, Pak?" tanya Luki agak ragu.

"Ya. Sepuluh juta untuk membeli lukisan sekaligus mimpi aneh senimannya. Aneh memang.  Seharusnya kau tidak mimpi seperti  itu."

Tangan  Sukamdi  gemetar  menerima  cek sebesar  itu. Tak pernah  ia bermimpi  bahwa lukisannya  akan dibeli orang seharga 10 juta. Andaikata nanti ada yang mau membeli lukisannya.  Berapa rupiah yang akan masuk ke kantongnya?  Mia tersenyum sewaktu menerima cek dari suaminya.

"Ingat, besok pagi, sebelum pukul 10 lukisan itu harus sudah jadi dan kau antar ke kantor," Sutomoyo segera menggamit tangan Luki, "hanya orang istimewa bisa mimpi dikelilingi 17 Matahari. Ya, 'kan?" celetuknya ketika sudah tiba di luar. Luki mengangguk dan tersenyum.

Malam itu Sukamdi gemetar ketika berdiri di muka lukisan yang sudah dibeli Sutomoyo, orang  terkaya  di  kota  ini.  10 juta!  Dan  ia tak  berhak memiliki  mimpinya  sendiri!  Edan.

Semalaman Sukamdi hanya berdiri memandangi  dirinya dalam lukisan itu yang juga sedang  berdiri dikelilingi 17 Matahari.  Kuas yang ada ditangannya  tetap bersih. Kaleng-kaleng  cat masih tertutup semua.  Potret Sutomoyo  tergeletak  di samping  sandal jepit  miliknya. 

"Mas!  Mas!"  teriak  Mia  dari  luar  sambil  menggedor   pintu  gudang. "Sudah  pukul 9. Kau harus mengantar  lukisan  itu sekarang  juga."

Sukamdi  tergagap. Ketika  ia menyibak  gorden jendela,  di luar sudah terang. Terang  sekali  karena  sinar  matahari  langsung  menembus   kaca jendela.   "Gila!"  desisnya   sewaktu   membuka   pintu.  Mia  menjerit  begitu melihat lukisan itu masih utuh. Tak ada perubahan apa-apa. "Bagaimana, Mas?!" tanya wanita  itu gugup.

"Mana cek itu?" tanya Sukamdi.  "Mana?"  desaknya  kemudian. "Untuk  apa?  Bukankah  lukisan  itu harus  kau ubah dulu?"

"Aku tidak akan mengubah  lukisan ini. Aku tidak akan menjual mimpiku sendiri.  Aku  masih  punya  harga  diri. Apa  di negeri  ini orang  tak boleh bermimpi?  Padahal  hanya  itu milik kita yang  paling  berharga. Sekarang mau dirampas. Tidak!" lelaki itu merebut dompet istrinya dan mengambil selembar  cek di dalamnya.  "Aku pergi dulu!"

"Ke mana?"

Sukamdi tak menggubris. Ia berjalan bergegas. Setengah berlari. Lalu berlari sambil mengibar-ngibarkan selembar cek  di tangannya. Orang­-orang kaget sewaktu lelaki itu berhenti di muka gedung bertingkat yang baru saja diresmikan. Semua  orang tahu  siapa pemilik gedung  di pusat perkantoran  itu. Sutomoyo,  orang  paling kaya di kota ini.

"Pak Sutomoyo, masih ingat saya?" teriak Sukamdi lantang. "Sayalah pelukis  yang  bermimpi  dikelilingi 17 Matahari. Dan Bapaklah yang mau membeli seharga 10 juta. Saya  tidak  rela.  Karena  itu, bersama ini saya kembalikan cek Bapak.  Ini ambillah."

Sukamdi  merobek-robek  cek itu disaksikan beberapa Satpam gedung itu dan puluhan  yang berdiri mengelilinginya.  "Ambillah ini." Robekan cek itu lalu disebar ke udara.

Orang-orang itu ternganga melihat pemandangan yang langka. Sukamdi  berjalan sambil tertawa  meninggalkan tempat itu.

Dikutip dari: Lukisan Matahari, 19 Cerpen Pilihan Bernas, Bentang Offset, 1993
 

Rumah yang Terang

Raja Cerpen ~ Listrik sudah empat tahun masuk kampungku dan sudah banyak yang dilakukannya. Kampung seperti mendapat injeksi tenaga baru yang membuatnya menggeliat penuh gairah.  Listrik memberi kampungku cahaya, musik, es sampai api dan angin. Oi kampungku, listrik juga membunuh  bulan dan langit.  Bulan tidak lagi menarik hati anak-anak, bulan tidak lagi mampu membuat bayang-bayang pepohonan. Tapi kampung tidak merasa kehilangan bulan. Juga tidak merasa kehilangan tiga laki-Iaki yang terserigat listrik hingga mati.


Sebuah tiang lampu tertancap di depan rumahku. Seperti teman-temannya sesama tiang listrik yang  membawa perubahan pada rumah yang terdekat, demikian pula halnya beton langsing yang menyangga  kabel-kabel  di depan rumahku itu. Bedanya, yang dibawa di rumahku adalah celoteh-celoteh sengit dua tetangga di belakang rumah.

Sampai sekian lama, rumahku tetap gelap.  Ayahku  tidak  mau  pasang listrik. Inilah yang membuat  tetangga di belakang rumah merasa jengkel terus­terusan. Keduanya sangat berhasrat menjadi  pelanggan listrik. Tapi hasrat mereka tak mungkin terlaksana sebelum ada dakstang di bubungan  rumahku. Rumah dua tetangga di belakang itu terlalu jauh dari tiang.

Kampungku  yang  punya  kegemaran  berceloteh  seperti  mendapat  jalan buat berkata seenaknya terhadap ayah. Tentu saja dua tetangga itu sumbernya. "Haji Bakir itu seharusnya berganti  nama menjadi Haji Bakhil.  Dia kaya, tapi tak mau pasang listrik. Tentu saja dia khawatir akan keluar banyak  duit."

Kadang celoteh yang sampai ke telingaku demikian tajam sehingga aku hampir tak kuat menerimanya. Mereka mengatakan ayahku memelihara tuyul. "Tentu saja Haji Bakir tak rnau  pasang listrik karena tuyul tidak suka cahaya terang." Yang terakhir kedua tetangga itu merencanakan tindakan yang lebih jauh. Entah belajar dari mana mereka menuduh ayahku telah melanggar asas kepentingan  umum.  Mereka  menyamakan  ayahku  dengan  orang  yang tidak mau menyediakan  jalan bagi seseorang  yang bertempat tinggal di tanah yang terkurung,  Konon  mereka  akan mengadukan ayahku kepada  lurah.

Aku  sendiri  bukan  tidak  punya  masalah  dengan  sikap  ayah.  Pertama, akulah yang lebih banyak menjadi  bulan-bulanan celoteh yang kian meluas di kampungku. Ini sungguh  tidak  nyaman.  Kedua,  gajiku sebagai propagandis pemakaian kondom dan spiral memungkinkan aku punya  radio, pemutar  pita rekaman,  juga  tv (karena aku masih bujangan). Maka alangkah konyolnya; sementara listrik ditawarkan sampai ke depan rumah, aku masih harus repot dengan setiap kali membeli baterai dan nyetrum aki.

Ketika belum tahu latar belakang sikap ayah, aku sering membujuk. Lho, mengapa aku dan ayah tidak ikut beramai-ramai bersama orang sekampung membunuh bulan? Pernah kukatakan, apabila ayah enggan mengeluarkan uang maka pasal memasang listrik akulah yang menanggung biayanya. Karena kata-kataku ini ayah tersinggung. Tasbih di tangan ayah yang selalu berdecik tiba-tiba berhenti.

"Jadi, kamu seperti semua orang yang mengatakan aku bakhil, dan pelihara tuyul?"

Aku menyesal. Tapi tak mengapa karena kemudian ayah mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa beliau tidak mau pasang listrik. Dan alasan itu tak mungkin kukatakan kepada  siapa  pun,  khawatir  hanya  akan mengundang celoteh yang lebih menyakitkan. Aku tak rela ayah mendapat cercaan lebih banyak.

Jadi, aku mengalah pada keteguhan sikap ayah. Rela setiap kali beli baterai dan nyetrum aki, dan rela menerima celoteh orang sekampung yang tiada hentinya.

Ketika ayah sakit, beliau tak mau dirawat di rumah sakit. Keadaan beliau makin hari makin serius. Tapi beliau bersiteguh tak mau diopname. Aku berusaha menyingkirkan perkara yang kukira menyebabkan ayah tak mau masuk rumah sakit.

"Apakah ayah khawatir di rumah sakit nanti ayah akan dirawat dalam ruang yang diterangi lampu listrik? Bila demikian halnya maka akan kuusahakan agar mereka menyalakan lilin saja khusus buat ayah."
Tanggapan ayah adalah rasa tersinggung yang terpancar dari mata beliau yang sudah biru memucat. Ya Tuhan, lagi-Iagi aku menyesal. Dan jiwaku mendadak buntu ketika mendengar ucapan ayah yang keluar tersendat-sendat.

"Sudahlah Nak, kamu lihat sendiri, aku hampir mati. Sepeninggalku nanti kamu bisa secepatnya memasang listrik di rumah ini."

Tidak pernah sekalipun aku mendengar kata-kata ayah yang mengandung ironi demikian tajam. Sesalku tak habis-habisnya. Dan malu. Keahlianku melakukan pendekatan verbal yang biasa kulakukan selama aku menjadi propagandis pemakaian kondom dan spiral ternyata hanya punya arti negatif di hadapan ayah. Lebih malu lagi karena ucapan ayah tadi adalah kata-kata terakhir yang ditujukan kepadaku.

Seratus hari sesudah kematian ayah, orang-orang bertahlil di rumahku sudah duduk di bawah lampu neon dua puluh watt. Mereka memandangi lampu dan tersenyum. Dua tetangga belakang rumah yang tentu saja sudah pasang listrik mendekatiku.  
                                         .
"Nah, lebih enak dengan listrik, ya Mas?"

Aku diam karena sebal melihat gaya mereka yang pasti menghubung­hubungkan pemasangan listrik di rumahku yang baru bisa terlaksana sesudah kematian ayah. Oh, mereka tidak tahu bahwa aku sendiri menjadi linglung.

Listrik  memang  sudah  kupasang,  tapi aku justru  takut  menghidupkan radio, tv,  dan  pemutar pita  rekaman.   Sore  hari  aku  tak  pernah  berbuat  apa  pun sampai ibu yang menghidupkan  lampu. Aku enggan menjamah  sakelar karena setiap kali aku melakukan  hal itu tiba-tiba bayangan ayah muncul dan kudengar keletak-keletik  suara  tasbihnya.

Linglung. Maka  tiba-tiba  mulutku nyerocos. Kepada para tamu yang bertahlil  aku  mengatakan  alasan  yang  sebenarnya   mengapa  ayahku  tidak suka listrik, suatu hal yang seharusnya tetap  kusimpan.

"Ayahku memang tidak suka listrik. Beliau punya keyakinan hidup dengan listrik  akan mengundang keborosan cahaya. Apabila cahaya dihabiskan semasa  hidup maka ayahku amat khawatir  tidak ada lagi cahaya bagi beliau di alam kubur."

Aku siap menerima  celoteh  dan olok-olok  yang mungkin  akan dilontarkan oleh para tamu.  Karena aku sendiri pernah menertawakan pikiran ayah yang antik itu. Aneh,  para  tamu  malah  menunduk.   Aku juga menunduk, sambil berdoa  tanpa  sedikit  pun kadar olok-olok.  Kiranya  ayahku  mendapat  cukup cahaya di alam sana.

Sumber: Senyum Karyamin, Ahmad Tohari, Gramedia, 1995

Penerbangan Dini

Raja Cerpen ~ Suatu hari Pak Dokter Ramsey pindah ke Jakarta. Beberapa musim liburan  sekolah Yongky kembali ke Sungailiat, karena papanya masih bertugas di Sungailiat. Kedatangan Yongky dan kesempatan berjumpa denqannya selalu membuatku girang tak terkira. lbunda  mengerti sekali. Lalu, siang harinya aku akan bermain sepuasnya dengan Yongky. Selalu saja kudapatkan suasana bermain yang baru.

Ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP dan bertambah bandel, Yongky datang bersama  papanya   dan seorang  kakaknya. Waktu itu papanya mengajakku menginap di rumah megah beliau di perkebunan cengkeh yang amat luas itu.

Kebetulan hari itu hujan turun bertubi-tubi sejak pagi. Kemudian, bersama sopir mereka, kami  pergi berenang di pemandian air panas Pemali. Dua hari aku menemaninya berlibur. Lalu             pada sore harinya  dia kembali ke Jakarta. Itulah pertemuan terakhir  kami.

Pertengahan masa SMP, aku sudah melupakan Yongky. Tidak ada lagi hal-hal istimewa. Aku sibuk bermain dengan kawan-kawan kampung dan sekolahku, bahkan aku menjadi semakin bandel. Sampai ketika aku melanjutkan sekolah ke Jogja dan beberapa kali mudik ke Bangka, tidak sekalipun aku menyempatkan diri singgah ke rumah Yongky di Jakarta. Aku betul-betul kehilangan  komunikasi apa pun dengannya.

Saat aku di Jogja aku mendapat kabar bahwa Yongky sudah menjadi sarjana komputer dan sudah 6 bulan ini membuka kursus kornputer. Bahkan, rencananya dia juga akan membangun usaha warnet.

Malam Sabtu suhu kamar kontrakanku gerah sekali. Beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Kukira pagi-pagi kelak bakal hujan deras. 'Ternyata tidak. Lantas hari Sabtu, esoknya, suasana  senja lebih cepat berkunjung akibat mendung. Kisah iklan biskuit yang kutonton beberapa hari masih menari-nari, mengusik kegelisahanku dan kerinduanku.

Sabtu pukul 16.45 WIB Ibunda menghubungiku via interlokal dari Bangka. Aku tengah asyik  merangkai kata demi kata dan memperbaiki kisah-kisah usang yang menurutku, harus ditata ulang selagi ide-idenya bagus. Kusambut inlok dari Ibunda.

Ngapain sih inlok jam-jam segini, pikirku. Jam-jam segini ongkos inloknya mahal. Ntar kalau  tekor, ngomel-ngomel lagi ama orang-orang di rumah.


"Noy, jam setengah lima tadi Yongky masuk RS Timah Pangkalpinang, karena sakit  malaria, dan  sesak natasnya kambuh. Sore ini Yongky langsung diterbangkan ke Jakarta untuk segera dirawat di sana."

"Hah?!" kata-kataku tidak sanggup tercurah. Seketika pikiranku terbang entah ke mana. Kutatap  suasana di  luar kontrakanku tampak langit mencucurkan titik-titik kristal  bening.

Disadur dari: "Penerbangan Dini", Agustinus Wahyono
 

Lilin-Lilin Kecil

Raja Cerpen ~ Diskusi dalam simposium itu sanqat menarik. Could it be HIV? Ya, masalah AIDS selalu  menarik  untuk didiskusikan. Seseorang dengan tes HIV positif kadang-kadang tak menunjukkan gejala.   Padahal ia berpotensi untuk menularkan AIDS. Sampai saat istirahat masih juga beberapa peserta  asyik berdiskusi.

"Isti, kau nggak mau ngopi dulu?" tegur Dohar dengan logat Bataknya yang khas.

"Sebentar, Do ... ,"jawab Isti dan pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada seseorang yang sedang  memperhatikannya. Seorang pria dengan brewok¬nya yang lebat namun terkesan rapi. Pria itu tersenyum dan menghampiri Isti.

"Bo1eh aku memperkenalkan diriku? Namaku David Smith," kata pria itu sambil mengulurkan  tangannya.

Dr. David Smith adalah pembicara dari La Trobe University. La memberikan ceramah mengenai  aspek sosial penyakit AIDS.

"AIDS memang menakutkan kita semua. Tanpa kita sadari, kita telah mengucilkan mereka. Kita tidak memberi harapan dan merampas hak mereka untuk mendapat  perlakuan yang sama, seperti  penderita penyakit lainnya. Padahal mereka membutuhkan lebih banyak perhatian, perlindungan,   dan kasih sayang....   " David  menyarankan, pendidikan tentang penyakit AIDS sebaiknya tidak diembel-embeli dengan gambar-gambar yang menakutkan.

"Kau memberi ceramah sangat bagus. Selamat,  David," puji Isti.

"Terima kasih, Isti. Namun, aku tidak tahu, apakah sikap peserta yang hadir saat ini terhadap  penderita AIDS akan berubah  lebih baik?"

"Mudah-mudahan, David. Tapi, untuk tidak menjadi  takut dan mengasihi, Oo  ...  , aku  tidak  tahu  bagaimana caranya,"  kata Isti terus terang. David tersenyum lembut. la menarik napas panjang.                                         .
"Memang sulit,  Isti. Semula aku juga tidak peduli, namun setelah adikku sendiri terkena AIDS, aku menyadari ada sesuatu yang harus kita perjuangkan,"

"Ooh  ... ," keluh Isti simpati. "Dan, bagaimana  keadaan adikmu sekarang, David?"

"Robert meninggal setahun yang lalu," jawab David sambil menghela napas panjang.                                                 "
"Oh, maaf  ...  ," kata Isti lembut.

"Tidak apa-apa,  Isti. Musibah itu telah mengubah hidupku menjadi lebih berarti. Aku menjadi sukarelawan untuk memberi penerangan mengenai AIDS. Kami berkeliling dari  kota ke kota, dari  sekolah ke sekolah  dan  organisasi pemuda,  untuk menyadarkan mereka  tentang  penyakit  itu. Bagaimana  cara menghindari  dan menghambat  penyebarannya. Walaupun  hanya sebagai  lilin¬ lilin kecil, kalau  kita bergabung,  pasti akan kelihatan  manfaatnya."

David menjadi teman korespondensi yang menyenangkan. la selalu menceritakan kegiatan sehari-harinya. Yang lucu, yang menggembirakan, dan yang menjengkelkan. Demikian juga lsti. Mereka  saling bertukar pendapat. David rajin mengirim artikel-artikel penelitian mengenai AIDS. Menanyakan kemajuan Isti dan menyatakan kerinduannya.
"Ada seseorang yang istimewa yang akan kau undang,  Mbak?" tanya Nani ketika melihat Isti sibuk menulis alamat  di sampul  surat undangan.

"Seorang  teman di Australia. Tapi aku tak yakin ia akan datang," jawab  Isti tersenyum  dalam hati. la tak tahu, bagaimana  reaksi ibunya kalau David benar¬ benar datang. Nani tertegun ketika  membaca  alamat  yang tertera  di sampul undangan. Wajahnya  berubah  keruh.

"Mengapa?"

Isti bertanya heran.

"Tidak apa-apa,"  Nani menjawab  pendek  dan pergi meninggalkan Isti. Malam nanti adalah  malam  midodareni.  Nani pergi  ke salon  dari jam  12 siang tadi dan belum kembali. Sudah jam empat sore. Nani belum juqa  kembali.

Disusul ke salon, ternyata Nani meninggalkan sepucuk surat. la membatalkan rencana  perkawinannya!

Maafkan Nani, Ibu. Nani telah berdosa  dan membuat  Ibu sedih. Nani tidak bisa menikah dengan Mas Surya. Namun percayalah,  apa yang Nani putuskan adalah  yang  terbaik  untuk Nani maupun  Mas Surya  ....

Bu Darsono jatuh pingsan ketika membaca surat Nani. Seisi rumah menjadi panik,

Isti tertegun sesaat.  Ada suatu perasaan yang tak dapat dikatakannya.Wajah Suryo melintas.  Kemudian wajah David.  Isti tak tahu siapa  yang kini mengisi relung hatinya. Ah, mengapa ia harus menghalangi Nani untuk meraih kebahagiaan? Bukankah jodoh  memang  sudah  digariskan? Isti  memeluk adiknya  dengan  mata berlinang.

"Jangan berkata begitu. Kau tak mengambilnya dariku. Tuhan telah memberikan Suryo kepadamu.   Jangan  menangis. Aku  ikhlas,  adikku  ...   ," Nani makin terisak.  la rnemeluk Isti erat-erat,

"Aku takut. Aku berdosa. Aku lebih bahagia  bila perkawinan ini tak terjadi"

"Hush, jangan sekali-kali kau berkata begitu. Mbak doakan, kebahagiaan akan melimpahi perkawinanmu. Nah, jangan menangis lagi, adikku," hibur Isti tulus.

Isti menghela napas panjang. Nani membatalkan perkawinannya dengan alasan tak jelas. Isti iba memandang wajah ibunya yang terbaring pucat. Betapa besar rasa malu yang akan mencoreng kehorrnatan keluarganya. Mengapa Nani tidak berpikir sampai di situ? Apa yang harus dikatakannya kepada Suryo? Isti berlutut dan mencium dahi ibunya.

"Isti akan mencari Nani, Bu ... ," bisiknya sendu.

Isti baru menstarter mobilnya ketika sebuah taksi berhenti tiba-tiba. Seseorang turun. Dan jantung Isti seakan berhenti berdetak. David Smith telah berdiri di samping mobilnya.

"Untung aku tidak terlambat. Kau hendak pergi, Isti?" mata David yang biru tampak berbinar.

"Hai ... ," Isti menyapa David tanpa semangat. "Ada apa, Isti? Kau tampak tidak bahagia .... "

"Mari masuk ke mobilku, David. Ada sesuatu yang terjadi. Dan aku akan menceritakan kepadamu."
"Kau tampak sangat berduka, Isti.Sebaiknya kau ceritakan dulu hal itu .... " "David, Nani adikku, mendadak meninggalkan rumah dan membatalkan perkawinan. Aku harus segera menemukan dia," jawab Isti agak ketus. Tiba-tiba saja ia ingin marah. lsti ingin melampiaskan semua kekesalan dan laranya. "Isti, berhentilah. Biar aku yang mengemudi ... ," bujuk David lembut.

Isti menarik napas panjang. la menghentikan mobilnya ke tepi. David menghapus air mata yang mengalir di pipi Isti.

"Berpikirlah secara tenang, Isti. Kau tahu, mengapa Nani membatalkan perkawinannya?"

"Aku tak tahu, David. Tapi semua orang menduga karena aku," Isti menuturkan pandangan menusuk yang diterimanya dari Bude Ami dan Bude Surti. Menyakitkan. David menggelengkan kepalanya. Matanya yang biru menyiratkan keyakinan.

"Tidak, Isti. Pasti bukan karena engkau. Kau pernah menulis di suratmu. Persoalan tersebut sudah selesai. Jangan kau salahkan dirimu."

Isti menghela napas panjang. Pikirannya terasa buntu. la merasa letih. Keyakinan David menghibur hatinya.
                                          .
"Apakah Nani pernah menceritakan kepadamu tentang kesehatannya?" tanya David tiba-tiba setelah terdiam beberapa lama.

Isti tertegun. Nani tidak pernah cerita apa-apa tentang kesehatannya dan dia juga tidak pernah memperhatikannya. Ya, Nani memang tampak kurus dibandingkan satu atau dua tahun lalu.

David menghela napas panjang. la mengeluarkan sehelai foto sebesar kartu pos dan memberikan kepada Isti. "Aku belum pernah bertemu dengan adikmu, Isti. Tapi foto yang terpajang di meja kerja Robert ini sangat mirip denganmu. Apakah gadis yang bersarna Robert itu adalah Nani, adikmu?"

Mata Isti terbelalak  menatap foto di tangannya. Ya, gadis itu adalah Nani. Samar-samar Isti teringat. Nani pernah punya pacar ketika belajar Administrasi Bisnis di Australia. Kepala Isti tiba-tiba  terasa  pusing.

"Apakah Robert adalah  adikmu  yang meninggal  karena AIDS?" tanya Isti dengan  suara  gemetar.                                                 “

Anggukan kepala  David  membuat mata  Isti  nanar.  la menatap David dengan seribu pertanyaan. Mata yang biru itu tampak berduka. Semua jawaban yang dicari  Isti ada di dalamnya.

Tubuh Isti bergetar. Oo, tidak! Nani tak akan sebodoh itu. Namun Isti melihat tubuh adiknya yang  semakin kurus  dan  pucat.  Isti  menggigil.  la sekarang teringat, Nani kerap kali mengeluh,   mulutnya sering  sariawan   dan  perih. Katanya,  infeksi jamur.  Isti kembali  menggigil.  la seakan-akan  melihat virus laknat itu menggerogoti tubuh adiknya.  Oh, tidak!

Isti terisak,  Di saat terakhir mungkin Nani sadar  akan  virus laknat yang telah menyerang  dirinya. la harus segera menemukan Nani. Melindungi Nani. Adiknya  itu pasti  sangat  menderita. Huruf-huruf  yang  tertera di surat Nani kembali  terbayang. la harus menemukan adiknya. Namun  Isti tak tahu apa yang, harus ia lakukan. Wajah ibunya dan Suryo berputar-putar di matanya. David memeluknya  lembut.

"Tabahlah,  lsti, please, jangan  menangis.  Kita akan berusaha  sekuatnya"


Namun air mata Isti semakin deras. Perjuangan itu  begitu berat. Mampukah ia menumbuhkan  harapan kepada Nani? Mampukah kelap-kelip lilin menerangi kegelapan di tengah badai, walaupun  sejuta lilin bergabung? Hanya kepada-Nya Isti memohon agar lilin-lilinnya tiada padam.

Sumber: Femina,  No.11/XXV,  20-26 Maret 1997
 
Back To Top