Kumpulan Cerpen atau Cerita Pendek

Search This Blog

Tes Kejiwaan

Raja Cerpen ~ Di sebuah rumah sakit jiwa sedang diadakan tes bagi pasien-pasiennya dengan maksud untuk mengetahui siapa yang sudah waras dan siapa yang masih gila. Dokter menyediakan kolam renang yang tidak ada airnya dan menyuruh pasien-pasiennya untuk berenang. Apabila dia yang lompat ke kolam berarti dia masih gila, dan apabila yang tidak lompat, ada kemungkinan dia sudah waras.


Dokter : “Ayo anak-anak, hari ini kalian boleh berenang sepuasnya di kolam renang.”

Pasien : “Horee... kita boleh berenang di kolam renang !”

Semua pasien menuju ke kolam renang dan langsung melompat ke kolam yang tidak ada airnya. Tapi terlihat ada satu pasien yang bernama Lhole tidak melompat ke kolam renang.

Dokter : “Astaga, ternyata mereka masih gila semua. Lho, tapi kenapa si Lhole tidak ikut dengan teman-temannya melompat ke kolam ya ?! Oh,, mungkin dia sudah waras karena tahu kolam itu tidak ada airnya.”

Suster : “Dok, ada satu pasien bernama Lhole dia tidak ikut melompat ke kolam, pasti dia sudah waras?” ayo kita tanya alasannya kenapa dia tidak ikut melompat ke kolam ?”

Dokter : “Hai Lhole, kenapa kamu tidak ikut melompat ke kolam bersama teman-temanmu ?”

Lhole : “Saya nggak mau ah lompat ke kolam itu, karena saya kan nggak bisa berenang !”

Dokter : “Oh..... Gubrakkgghh.... ternyata pasien ini masih lebih gila dari pada pasien lain !”

😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢😢

Beli Semangka

Raja Cerpen ~ Di suatu pasar terlihat ada seorang pembeli yang sedang tawar menawar dengan seorang pedagang buah semangka.


Pembeli : “Bang, berapa semangkanya sekilo ?”

Penjual : “Rp 8.000 Pak !”

Pembeli : “Waduuh, mahal banget Bang!” Goceng deh !?

Penjual : Wah, nggak bisa Pak, harga sudah naik, BBM mahal !”

Pembeli : “Ini banyak bijinya nggak Bang ?”

Penjual : “Oh.... ini sih dijamin nggak ada bijinya Pak, kalo ada bijinya nanti Bapak nggak usah bayar deh..!”

Pembeli : “Ya udah, kalo gitu saya mau yang banyak bijinya aja, 10 kilo deh !”

Penjual : Gubrakkggghhh

😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓

Beda Dokter Mata Dengan Dokter Kandungan

Raja Cerpen ~ Si Jabrik bertanya kepada temannya si Tambun, “Apa bedanya dokter mata dengan dokter kandungan”.


Si Tambun : “Dokter mata memeriksa semua mata pasien yang berobat kepadanya, baik itu wanita, pria maupun banci, sedangkan dokter kandungan pasiennya hanya wanita”.

Si Jabrik : “Salah”.

Si Tambun : “Habis apa dong jawabannya ?”

Si Jabrik : “Bedanya adalah cara membuka dengan jarinya, kalau dokter mata membuka mata pasien dengan vertikal, sedangkan dokter kandungan secara horisontal”.

😜😝😞😟😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚

Beli Yang Nggak Manis

Raja Cerpen ~ Seorang pembeli yang terkenal dengan pelitnya hendak membeli buah-buahan dan berdebat dengan pedagang buah.


Pembeli : “Berapa harganya jeruk sekilo”.

Pedagang : “7.500 rupiah saja pak”.

Pembeli : “Terlalu mahal, bagaimana kalau 5.000 saja, saya beli 5 kilo”.

Pedagang : “O.... tidak bisa, terlalu murah”.

Pembeli : “Tapi manis enggak”.

Pedagang : “Dijamin manis.... deh”.

Pembeli : “Kalau enggak manis gimana”.

Pedagang : “Enggak usah bayar”.

Pembeli : “Ya sudah... yang enggak manis aja 10 kilo”.

😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆

Banyak Anak-Anak Pak !

Raja Cerpen ~ Syamsul adalah guru terkenal paling galak di sebuah SMA di Jakarta. Pagi itu setelah bel berbunyi, ia masuk kelas lalu mendikte soal kepada muridnya dengan sangat cepat.


Johny, seorang murid memberanikan diri protes.

Johny : “Pak, pelan-pelan dong pak !!

Pak Guru bertanya : “Emangnya kenapa, goblok!!??”

Johny : “Banyak anak-anak, Pak !”

Pak Guru : Semprul....emangnya naik motor !”

😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓

Pengamen Dengan Biolanya

Raja Cerpen ~ Di Pasar seorang pengamen sedang asyik memainkan biolanya dengan lagu-lagu sedih, namun tak seorang pun yang memperhatikan apalagi memberi sumbangan. 


Namun pada saat jam pulang sekolah seorang anak begitu serius menonton biolawan sampai-sampai ia menitikkan air mata. Si biolawan merasa permainannya sangat bagus, kemudian menghampiri si anak dan bertanya: nak apakah musik tadi menyentuh perasaanmu ?

Betul pak, saya jadi teringat almarhum ayah saya, jawab si anak.

Oh..., apakah ayahmu juga seorang pemain biola ?

Bukan... ayah saya seorang tukang kayu, mendengar suara biolamu aku jadi teringat suara gergaji kayunya...
😋😋😋😋😋😋😋😋😋😋😋😝😝😝

Darah Gaun Pengantin

Raja Cerpen ~ Kejadian ini terjadi beberapa minggu lalu..di Kota Jakarta.. Yang terkenal sebagai Kota Metropolitan, ketika semua orang sibuk dgn kegiatan masing-masing.

Seorang gadis yang merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya di Kota Jakarta, satu-satunya pewaris tunggal dari semua kekayaan Bapaknya.


Gadis ini diam-diam mencintai seorang Lelaki yang bekerja sebagai supir di perusahaan Bapaknya.

Begitu juga Lelaki itu sangat mencintai sang gadis yang notabene adalah anak dari sang bos tempatnya bekerja.

Lama-kelamaan sang Bapak pun mengetahui hubungan Asmara antara putri semata wayangnya dengan salah satu supir di perusahaannya itu.

Jelas saja sang Bapak tak merestui hubungan ini.

Perbedaan faktor ekonomilah yang menjadi sebab-musababnya.

Dengan Alasan tidak Se level lah', Tidak Sepadan, Sang Gadis Calon Dokter, Anak Pengusaha, Sementara yang lelakinya hanya supir perusahaan, tidak tamat Sekolah, anak orang Susah...

Namun inilah Cinta layaknya Romie dan Juliet..

Sudah beberapa kali putrinya meminta dan memohon agar merestui hubungan cinta mereka.

Tetapi sang Bapak tetap bersikukuh dengan keputusannya, hingga Bapak mengancam akan memecat Lelaki dari pekerjaannya, bila Lelaki itu tak juga memutuskan hubungan asmara dengan putrinya.

Namun, keputusan sang Bapak tak memudarkan cinta mereka.

Mereka tetap bersikeras melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Bahkan mereka berencana Kawin lari.

Akhirnya sang gadis itu pun pergi meninggalkan rumah bersama Lelaki itu Walau sang gadis tahu kehidupannya akan Sengsara, namun itu tak menghalangi niatnya untuk minggat dari rumah.

Karena apapun keputusan ayahnya, tidak ia pedulikan Cinta itu buta telah membawanya Ke Bahtera yang bergelora..

Bapaknya kebingungan mencari di mana keberadaan putrinya itu, hingga dia menyadari apa yang telah dilakukannya selama ini telah melukai hati putrinya.

Dia pun segera menulis permintaan maafnya di beberapa media surat kabar.

"ANAKKU SAYANG, MAAFKAN AYAH, NAK. AYAH TAHU CINTA KALIAN TAK DAPAT DIPISAHKAN. PULANGLAH, NAK, ... AYAH MERESTUI KALIAN”

Hingga akhirnya isi permintaan maaf itu terbaca oleh sang gadis dan dia pun segera pulang menemui ayahnya ditemani Lelaki tersebut.

Tentunya kedatangan mereka disambut dengan tangan terbuka oleh keluarga sang gadis. Sampai dengan Upacara yang meriah...

Hari berganti hari persiapan pernikahan mereka hampir rampung semua. Hari-hari ini sang calon pengantin tengah berada di sebuah boutique untuk fitting (mengepas, menepatkan ukuran) baju pengantin mereka.

Ketika sang gadis tengah asyik mencoba gaun pengantinnya, sang Lelaki kekasihnya berpamit untuk membeli minuman di sebuah toko yang terletak di seberang boutique.

Ketika Lelaki ini menyebrang, tanpa diduga sebuah truk berkecepatan tinggi menabraknya, hingga pemuda itu terpental jauh hingga beberapa meter.

Sang gadis yang melihat kejadian itu segera berlari ke arah pemuda. Namun, naas pemuda itu langsung meninggal di tempat.

Darah pemuda itu terus mengalir di gaun putih pengantin sang gadis, hingga akhirnya sang gadis tak sadarkan diri.

Besoknya, jenazah lelaki kekasihnya baru dikebumikan. Hingga malamnya setelah pemakaman lelaki kekasihnya usai, ibu sang gadis bermimpi didatangi seorang nenek tua yang menyuruh untuk segera membersihkan noda darah sang pemuda di gaun putih pengantin sang gadis.

Namun sang ibu malah mengabaikannya. Hingga malam kedua setelah pemakaman, giliran sang Bapak yang bermimpi didatangi nenek tua untuk membersihkan noda darah itu.

Karena merasa ada keganjilan, akhirnya mereka pun mencoba menghilangkan noda darah itu. Namun, hingga hari keenam, darah itu tak juga menghilang dari gaun putih pengantin sang gadis walau segala usaha telah dilakukan.

Malamnya sang gadis ini pun bermimpi didatangi sang nenek tua. Lalu, nenek tua itu mengancam akan membunuh sang gadis bila sampai hari ketujuh noda darah itu tak juga menghilang.

Sampailah hari ketujuh setelah pemakaman Lelaki Malang kekasihnya itu. Malam itu tak seperti biasanya rumah sang gadis mendadak sepi.

Tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu utama dengan kerasnya. Dengan segenap keberaniannya, gadis itu mencoba membuka pintu utama.

Namun, apa yang terjadi, dilihatnya seorang nenek yang datang dalam mimpinya semalam ada di hadapannya sekarang, hingga gadis itu terjatuh lunglai tak berdaya.

"SIAPA KAMU? MAU APA KE SINI?” tanya sang gadis ketakutan.

Bukannya menjawab pertanyaan sang gadis, nenek itu malah semakin mendekati gadis itu.

"NENEK HANYA INGIN MEMBERIKAN INI, NAK ...,” jawab sang nenek melemparkan sebuah bungkusan ke arah sang gadis.

“INI APA ..?” tanya sang gadis masih ketakutan dan gemetaran.


Dengan suara lirih nenek itu menjawab :

"tu RINSO anti noda ... Untuk membersihkan noda yang paling bandel..."

Serius amat bacanya...wkwwkwkwk.......

Anda boleh SHARE biar yang lain juga baca yah......

Maunya Sih Bersikap Ramah, Tapi ...

Raja Cerpen ~ Saat itu saya dan Tita, kakak saya, disuruh ibu ke rumah Tante Lisa. Selama ini kami hanya mengenal Tante Lisa dari cerita ibu. Ia adalah sahabat ibu. Sebulan yang lalu Tante Lisa pindah ke kota ini dari Medan. Walaupun sudah sebulan menetap di kota ini, kami belum pernah bertemu.

Sore itu sambil membawa sekeranjang buah rambutan, kami disuruh ke rumah Tante Lisa. Kata ibu, putri Tante Lisa yang bernama Ika sangat suka buah rambutan. Itulah makanya, kami disuruh ibu mengantarkan buah rambutan kepada Tante Lisa.

Saat sampai di depan rumah Tante Lisa, kami melihat seorang anak kecil, kira-kira berumur delapan tahun. Anak itu bermain sendiri di halaman rumah. Kami lalu menghampiri anak itu. Ini pasti Ika, putri Tante Lisa.

"Hai, Ka! Apa kabar?" sapa Kak Tita dengan ramah. Kak Tita lalu mendekati anak itu dan mengulurkan tangannya.

Tetapi anak itu diam saja. la hanya terbengong-bengong memandang kami berdua. Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seorang wanita, kira-kira berusia 35 tahunan. Itu pasti Tante Lisa.

"Halo, Tante Lisa! Apa kabar?" kata saya sambil menjabat tangan Tante Lisa.

"Wah, Tante cantik sekali memakai baju merah ini!" kata Kak Tita sambil menjabat tangan Tante Lisa. Kak Tita berusaha mencium pipi Tante Lisa, tetapi saya lihat Tante Lisa menghindar, dan segera melepaskan tangannya. Tante Lisa mengerutkan dahinya. Wajahnya tampak makin bingung. Tampaknya ia marah. Saya melihat ia mau berkata ketika saya mendengar seseorang memanggil nama kami. 

"Tita, Tito!"

Kami pun menoleh mendengar panggilan itu. Kami melihat seorang wanita setengah baya memanggil dan menghampiri kami.

"Tita, Tito! Kalian mencari saya 'kan? Saya Lisa, Tante Lisa," katanya sambil tersenyum dan menjabat tangan kami satu per satu.


"Tante Lisa?" tanya saya heran. Terus terang saya kaget. Selama ini saya membayangkan Tante Lisa usianya di bawah ibu. Ternyata, ia sebaya dengan ibu dan badannya agak gemuk.

Saya melihat Tante Lisa berkata kepada tante yang kami salami. la bernama Tante Dewi, tetangga Tante Lisa.

Rupanya kami salah masuk rumah. Rumah Tante Lisa di depan rumah Tante Dewi. Saat kami masuk ke halaman rumah Tante Dewi, Tante Lisa melihat kami. Beliau lalu menyusul kami ke rumah Tante Dewi.  Rupanya saat  kami  berangkat  ibu menelepon Tante Lisa dan menjelaskan ciri-ciri kami.  Pantas saja Tante Lisa langsung  mengenali  kami walaupun belum pernah bertemu.

Cerita tentang  kami yang salah masuk  ke rumah orang sampai juga di telinga ayah dan ibu. Sejak saat itu saya dan Kak Tita selalu jadi bahan cerita lucu di keluarga kami. Gara-gara ingin bersikap ramah, kami berdua malah mendapat malu.

Upacara Bendera

Raja Cerpen ~ Hari itu hari Senin. Seperti biasanya sebuah sekolah mengadakan upacara bendera. Meskipun hari itu hujan mengguyur, siswa-siswi di sekolah itu tetap melaksanakan upacara bendera.

Setelah tiba tugas sang pemimpin upacara untuk melapor kepada pembina upacara, sang pemimpin upacara itu berkata, "Lapor upacara hari ini segera dilaksanakan. Laporan selesai."


Pembina upacara segera menjawab, "Kembali ke tempat."

Sang pemimpin upacara langsung berkata, "Di sini saja, Pak!!!" Mendengar jawaban pemimpin  upacara itu, pembina upacara menjadi heran dan bingung. Kemudian, pembina upacara pun berkata,  "Kenapa tidak  mau kembali  ke tempat?"

Pemimpin upacara langsung menyahut, "Maaf Pak! Di belakang becek."

Disadur dari: www.lucu-Iucu.com 
 

Beo di Depot Stasiun

Raja Cerpen ~ "Satu  jam  lagi," kata Pak Aruman dalam hati. Lalu arloji itu dimasukkan lagi ke dalam sakunya, yang kemudian dirapatkan dengan peniti.  "Hati-hati  di kereta  api,  banyak  copet,"  demikian  pesan tetangganya, ketika Pak Aruman pamit akan ke Jakarta. Oleh karena itu, arlojinya tidak dipakai di pergelangan tangannya.

"Karcis sudah didapat. Akan tetapi, ... perut terasa lapar. Nah, itu ada depot ... ," pikir Pak Aruman, setelah membaca tulisan di depan sebuah stasiun. Kakinya kemudian melangkah menuju tempat yang diharapkan dapat memenuhi kehendaknya untuk mengisi perut.

Begitu dia membuka pintu, terdengar suara, "Selamat  pagi." "Selamat  pagi. Tetapi  ... eh, ini sudah siang," sahut Pak Aruman sambil  mencari-cari  siapa yang  mengucapkan salam  tadi.


Ketika dia melihat seekor burung Beo dalam sangkar bagus di sudut ruangan maka tertawalah dia. Burung itu pun ikut tertawa.

"Kopi panas satu," kata burung Beo, jelas.

Pak Aruman  tertawa dalam  hati.  Pintar benar burung Beo ini, pikirnya.

"Satu nasi goreng  ...   ," kata burung  itu pula. "Klop!" kata Pak Aruman.

"Pakai telur mata sapi," kata si Beo pula.

"Yah ...  ," sahut Pak Aruman, sambil tersenyum-senyum. Lalu dia mengambil tempat duduk dekat sangkar burung.

Lama tidak ada pelayanan, iseng-iseng Pak Aruman  mendekati si burung  Beo.

"Kau pintar, bagaimana bisa tahu seleraku?"  tanya  Pak Aruman.

"Tusuk  gigi," kata si burung Beo.

"Ya  ...   ya ...   tentu  saja. Tusuk gigi gratis, dan itu perlu untuk membuang kotoran yang melekat pada gigi."

"Lalu, apa lagi?" katanya pula. "Selamat  pagi," sahut si burung.

"Sudah kukatakan,  sekarang sudah siang." "Kopi panas,"  kata si Beo pula.

"Itu sudah."

"Satu nasi goreng."

"Juga sudah."

"Pakai telur mata sapi ....  "
"Jelas.  Itu sudah kamu katakan tadi."

''Tusuk gigi."

"Batal  ...   batal ...   batal ...  ," teriak si Beo, lantang.

"Ya. Batal saja. Bisa ketinggalan kereta api," kata Pak Aruman. Dia pun berdiri dari duduknya dan mengangkat kopor bawaannya.

Begitu membuka  pintu dan  akan melangkah keluar, terdengar olehnya  si Beo berkata  lagi:

"Terima kasih."

"Terima  kasih, apa! Perutku sama sekali belum terisi ...  ," gerutu

Pak Aruman sambil  bergegas  pergi.

Dalam perjalanan,  lelaki itu termenung  sambil memandang  keluar jendela.  Ingatannya  masih tertuju kepada si Beo, yang tadi dianggap pandai dan  mewakili  dirinya.  Dia  merasa  bahwa  burung  pintar  itu sengaja  diletakkan di tempat  itu untuk  membantu  pembeli  memesan makanan.  Apa betul begitu?

Lama dipikir-pikir, akhirnya Pak Aruman tertawa sendiri, menertawakan kebodohannya. Untung tertawanya tidak terlalu keras sehingga tidak  terdengar orang yang duduk di sebelahnya. Kalau terdengar tentu dia ditertawakan orang.

Namaku Panjang

Raja Cerpen ~ Seorang mahasiswa baru sedang diwawancarai dosennya. "Siapa namamu?"

"Panjang, Pak."


"Nggak apa-apa. Sebutkan saja. Memang nama anak-anak sekarang panjang-panjang. Siapa namamu?"

"Panjang, Pak."

"Anak-anak saya, keponakan saya, saya juga, dan tetangga saya, panjang-panjang namanya.Tapi yang ingin saya ketahui nama lengkapmu, bukan panjang pendek namamu!" Sang Dosen mulai marah. "Ayo, sebutkan nama lengkapmu!"

"Panjaaaaang !" teriak si mahasiswa yang bernama Panjang itu.

Oleh Berbagai Sumber
 

Takut Dipenjara

Raja Cerpen ~ Si Jon seorang warga asal Solo merantau di Jakarta. Lebaran lalu, ia beserta seluruh keluarganya mudik ke kampung halamannya. Mereka membawa mobil pribadi yang sangat mewah. Kehadiran si Jon beserta keluarganya ini menarik perhatian warga di kampungnya yang kebanyakan tergolong orang-orang miskin. 


Mereka terpana dan terpesona melihat mobil mewah yang dibawa si Jon.

Beberapa tetangga kampungnya dan anak-anak datang memberi salam dan ingin melihat mobil mewah  sambil malu-malu. Tapi tidak demikian dengan Cimeng. la mengajak teman-temannya mendekati mobil itu. "Jangan Meng, nanti dimarahi yang punya," kata temannya. "Jangan kuatir. Tidak mungkin akan  marah, kita hanya melihat saja kok," jawab Cimeng.

Cimeng mendekati mobil itu. Dua orang temannya mengikuti dari belakang. Tangan Cimeng gatal untuk tidak memegang mobil itu. Kebetulan yang dipegang pintu mobil. "Ngiuuuuuung!!!" Tahu-tahu terdengar suara alarm mobil itu mirip sirene polisi.

Kontan saja ketiga anak dusun itu kaget, mereka ketakutan, dan lari tunggang langgang. "Apa kataku, Meng, ini mobil polisi. Nanti kamu bisa ditangkap! Kamu akan dipenjara!  Rasain kamu!" ujar salah seorang temannya. 
                                                      .
"Saya takut dipenjara! Saya jangan dipenjara!" teriak Cimeng mulai panik. Teriakan Cimeng dan suara sirene itu mengagetkan banyak orang, termasuk si Jon dan keluarganya. Mereka segera keluar dan menuju mobilnya untuk mematikan suara alarm itu.

Sumber: Solo Pas, 28 Februari 2004
 

Si Amerika yang Cerdas

Raja Cerpen ~ Empat orang eksekutif sedang berdebat. Keempat orang tersebut terdiri dari orang Jerman, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Sambil berbicara si Prancis mengambil dari dompetnya uang kertas 1 dollar. Kemudian, digulung, digunakan menyulut api liIin di depan mereka dan kemudian menyalakan rokoknya.



Ketiga lawan debatnya terperanjat.

Si Jerman tak mau kalah lagak. Dirogohnya uang sepuluh dollar, dinyalakan, digunakan untuk menyulut cerutunya. Si Inggris bergumam, "Bodoh betul mereka itu," tetapi ia pantang mundur. Digulungnya uang seratus dollar, langsung  menyalakan  cerutunya,  dan ia merasa memenangkan persaingan.

Menyaksikan perlombaan ini si Amerika menjadi kecut sebab saat itu tidak ada sepeser dollar pun di sakunya. Apa akalnya? Dengan tenang diambilnya buku cek dari saku jasnya, ditulisnya angka seribu dollar, kemudian ditandatangani. Kertas cek digulung dan dengan tenang pula disulutkan ke api lilin untuk menyalakan rokoknya.

Sumber: Born Tawa dari Rusia
 

Berangkat Sekolah

Raja Cerpen ~ Siang itu adalah hari yang sangat melelahkan bagi Tita. Di sekolah ia belajar sampai mata pelajaran ke-7. Apalagi  jarak antara rumah indekos Tita dengan sekolahnya cukup jauh. Seperti  biasa, sepulang sekolah Tita makan siang lalu istirahat. Karena  kecapaian, Tita tidur dengan sangat pulas.


Begitu Tita terbangun. spontan ia melompat dari tempat tidur lalu berlari menuju teras. Dilihatnya sinar matahari begitu terang. "Aduh, saya terlambat, nih," bisiknya dalam hati. Cepat-cepat disambarnya   handuk lalu ia mandi. Tita mandi dengan kilat. Sejurus kemudian Tita sudah berhias dengan  berbaju seragam di depan cermin.

Heni, teman sekamarnya dari tadi hanya mengamati  tingkah laku Tita.  Heni tahu memang  Tita sangat pelupa. la sengaja membiarkannya. Hari itu Tita tidak berniat makan karena takut terlambat datang di sekolah.

"Hen, aku berangkat dulu ya," kata Tita sambil  terburu-buru.  "Kamu mau ke mana, Ta? Sekarang pukul berapa?  Memang ada sekolah masuk sore, Ta?" kata Heni sambiI menahan  tawa.

"Ha? Jadi, sekarang bukannya pagi, Hen?" kata Tita sambil terheran­heran. Heni tertawa terbahak-bahak   melihat air muka Tita yang  tersipu malu. Tita hanya diam seribu bahasa.

Oleh Berbagai Sumber
 

Cerita Si Imung

Raja Cerpen ~ Imung, begitulah teman-teman memanggilnya. Meski Imung tercatat sebagai siswa baru SMA 99, hampir semua siswa mengenalnya. Imung memang sangat mudah dikenali. Tubuhnya yang lumayan besar dan rambutnya yang kribo ala brekele adalah ciri khasnya. Apalagi kalau si Imung sedang melucu, pastilah teman-temannya akan tertawa habis-habisan. 


Oleh karena itu, kakak-kakak kelas atau seniornya bersepakat untuk menjadikan Imung sebagai maskot  pada Masa Orientasi Sekolah (MOS).

Imung memang anak yang gaul. Dengan siapa pun juga ia bisa berinteraksi dan ringan tangan membantu teman-temannya. Termasuk salah satunya mengantar jemput si Edo, kakak kelasnya yang kebetulan rumahnya satu jurusan dengannya. Namun, siang itu tampaknya ada kejadian lucu ketika Imung hendak pulang sekolah bersama Edo.

Siang itu selepas pulang sekolah, Imung dan Edo segera menuju tempat parkir mengambil sepeda motor. Tanpa sempat berpaling ke arah belakang, Imung segera menancap gas. Seperti  biasa sepanjang perjalanan Imung selalu bercerita tentang pengalamannya di sekolah. Tidak terkecuali siang itu ia pun bercerita tentang perasaan cintanya kepada si Vera, calon bintang AFI yang sudah tereliminasi sejak babak penyisihan.

Karena asyiknya bercerita, Imung tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang sedang berhenti di lampu merah. Mereka memang hanya tersenyum-senyum saja. Namun, siapa tahu diam-diam mereka berpikir bahwa orang  gendut ini sudah gila. Melihat orang-orang tersenyum, Imung malah merasa bangga. la semakin yakin akan daya tarik tubuh dan rambutnya.

Imung barulah tersadar ketika memasuki gang rumah Edo. Ketika itu Imung menengok ke arah  belakang. Olala, ternyata si Edo tidak bersamaku. Jadi, pantaslah orang-orang itu tersenyum simpul melihat Imung.

Teko Jepang

Raja Cerpen ~ Setiap pagi Widodo keluar dari gubuknya, meninggalkan istri dan tiga anaknya, membawa plastik murahan berwarna hitam. Sudah seminggu ini persediaan beras di rumah semakin menipis. Istrinya meratap tetapi Widodo hanya mengatakan supaya menunggu beberapa hari ini. "Aku akan  pulang dengan tas hitam ini penuh dengan uang."


Dengan hati-hati dibukanya tas plastik hitamnya dan dikeluarkannya sebuah bungkusan yang kelihatan gawat. Dipegangnya bungkusan itu dengan sangat hati-hati, tangan istrinya dia larang menyentuh. "Awas, nanti pecah. Teko Jepang ini hanya boleh dipegang oleh tangan yang ahli. Kau tahu,  berapa  usia teko ini?"

"Bukalah!" pinta istrinya.

"Tak usah. Ini usianya sudah mencapai 18 abad, tahu kau? Teko ini dibuat di Tiongkok pada zaman  Dinasti  Nang. Bahkan dengan  teko  inilah dulu kala para duta Cina dan Sriwijaya  mengadakan  upacara  minum teh. Dan kau tahu, berapa  harganya?"  tanyalah lagi tapi yang bukan mengharap jawaban.

"Entahlah! Tapi beras kita hampir habis!" keluh istrinya.

"Tenang saja harga teko ini lima belas juta rupiah," katanya. la lalu memasukkan teko ke dalam  bungkusan dan terus ke tas plastik hitamnya. Kemudian dia pergi lagi mencari Mister Tammy.

Di depan Mister Tammy, Widodo membuka bungkusan teko antiknya, juga tetap dengan sangat hati-hati. Tangan lelaki itu gemetar. Di kepalanya terkhayal uang jutaan rupiah yang menggodanya,   beterbangan  di  lantai  kamarnya, kemudian mobil mengkilap dan rumah  baru.

Lama Widodo membiarkan korbannya itu takjub. Dilihatnya bagaimana Mister Tammy melotot seolah-olah berhadapan dengan karya  seni  yang terbesar  di dunia.  "Alangkah  menakjubkan!" bisiknya.

"Berapa harganya?" tanya Mister Tammy tanpa menyentuh. "Lima belas juta, Mister. Halus sekali. Sentuhlah!"

"Tidak. Aku tak berani menyentuh benda antik seindah  itu."

"Tak bisa kurang sedikit?"

"Tentu saja bisa, Mister. Dalam perdagangan seperti Tuan maklum, harga bisa damai. Apalagi Mister  pencinta benda seni!"

Tammy bangkit kemudian  ke belakang. Dia menulis sepucuk  surat untuk Tuan Wahyono.  Dia suruh pelayannya  cepat mengantarkan  surat itu.

"Aku minta bantuan Tuan Wahyono untuk menilai harga teko ini. Dia adalah ahli keramik. Rumahnya di sebelah itu," ujar Tammy setelah kembali duduk di dekat tamunya.

"O,  baik sekali, Mister. Itu lebih pasti," kata Widodo lega.

"Aku minta kau bisa bersikap luwes dalam soal harga," bisik Mister Tammy. "Pasti. Kita tunggu saja apa  kata ahli keramik itu tentang  teko ajaib  ini. Kata yang punya dulu, teko ini bisa menangis kalau malam Jum'at."

"Menangis? Kau sungguh-sungguh?"

"Yaa, buat apa saya membohongi Anda,  Mister?"

"Aku pernah bermimpi,  memiliki teko yang bisa menangis." "Oh, lihatlah, Mister.  Bulu romaku berdiri!"  jerit Widodo.

Kemudian datang Tuan Wahyono dengan buru-buru. Sebagai ahli keramik, dia sudah menyatukan  seluruh kehidupannya dengan keramik yang telah jadi fosil kehidupan. Dia pegang teko itu dan mengamat-amatinya secara cermat melalui kacamata tebalnya. "Alangkah indahnya, keramik ini," katanya dingin dan mata Widodo bersinar-sinar. "Sayang sekali ujungnya agak retak. Naganya bagus!".
                                                                                         
Kedua lelaki yang mendengar komentar ini tak berani membuka mulut. "Ini adalah teko buatan Jepang,"  kata Tuan Wahyono kemudian. Teko tadi lalu dislentik-slentiknya, sehingga berbunyi tig, tig, tig. "Tapi sayang sekali, Tam, usianya masih  muda sekali. Lihat, ini!  Suaranya tidak bening, kan.  Kalau keramik antik bunyinya ting-ting-ting. Bukan tig-tig-tig. Dan keramik kuno tidak punya bentuk semacam ini. Ini jelas keramik Jepang yang masih muda sekali usianya," sambungnya dengan nada datar.

"Berapa kira-kira, harganya?"  tanya  Tammy tiba-tiba.

"Begini, Tam," sahut Wahyono si ahli keramik. "Teko ini murah sekali. Tetapi sepuluh abad lagi akan  sangat mahal. Ini adalah teko yang dibuat Jepang pada tahun empat puluhan dan dibawa kemari.  Tentu saja harganya murah. Kira-kira dua ribu peraklah,  begitu. lni bukan benda kuno sama sekali, kecuali sepuluh  abad  lagi, kelak!"

Baik Tammy maupun Widodo mulai menyadari bahwa keduanya amat terkejut. Impian masing-masing   telah buyar. Teko yang bisa menangis dan selamat tinggal kemelaratan! Datang Tuan Wahyono  membangunkan mereka dengan kata-kata sedemikian datar dan dingin, sehingga Widodo merasa beku seketika.

"Sungguh? Bukan buatan dari Dinasti Nang delapan belas abad yang lalu, teko  ini?"

"Bukaaan. Ini buatan Jepang. Indah, tapi dari tahun 40-an." Tuan Wahyono bangkit. Pulang.

Karya: Jasso Winarto Cerita Pendek Indonesia III. Satyagraha Hoerip, Gramedia. 1986
 
Back To Top